Menyingkirkan Gulma

Artikel Ramadhan

BAB 6 -Menyingkirkan Gulma: Riya, Hasad, Takabbur

dikutip dari Buku Taman Jiwa_Gus Salam YS

Tidak semua yang merusak taman terlihat dari permukaan. Ada yang tumbuh diam-diam.
Tidak berisik. Tidak mencolok. Namun akarnya menghisap cahaya dari dalam tanah. Setelah jiwa
disiram oleh taubat dan dilembutkan oleh dzikir, masih ada pekerjaan yang lebih sunyi:
membersihkan gulma batin yang tersembunyi.

Riya, hasad, takabbur, Sifat-sifat ini tidak selalu lahir dari kebencian terang-terangan. Justru
sering muncul dalam diri orang yang sedang berusaha menjadi baik. Ia menyelinap di balik amal.
Ia bersembunyi di balik kebaikan. Ia bersembunyi di balik niat yang terlihat suci.
Riya membuat seseorang beramal agar dilihat. Hasad membuat hati tidak tenang melihat
orang lain diberi nikmat. Takabbur membuat diri sulit menerima kebenaran.
Ketiganya adalah racun halus. Allah Ta’ala berfirman:

 

وْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ ٨٨
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ۝ ٨٩

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah
dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘arā’: 88–89)

 

Ayat ini mengguncang. Yang akan menyelamatkan bukan sekadar amal, bukan status, bukan
reputasi tetapi hati yang bersih. Masalahnya, hati yang sakit tidak selalu terasa sakit. Ia bisa tetap
aktif, tetap rajin, tetap dihormati. Tetapi di dalamnya ada akar-akar yang menyerap keikhlasan.

 

Rasulullah SAW memperingatkan tentang syirik kecil yang paling beliau khawatirkan bagi
umatnya. Para sahabat bertanya, “Apakah itu?” Beliau menjawab, “Riya.” Betapa halusnya
penyakit ini sampai Rasulullah SAW khawatir ia menyusup ke dalam hati orang-orang yang rajin
beribadah.

 

Dalam perjalanan ruhani, membersihkan dosa lahir lebih mudah daripada membersihkan
niat. Menahan tangan dari maksiat bisa terlihat. Tetapi membersihkan hati dari ingin dipuji hanya
Allah yang tahu.

 

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa penyakit hati adalah sumber kerusakan amal. Jika hati
tidak dijaga, amal yang banyak bisa kehilangan nilainya. Kearifan Jawa mengingatkan:
“Ati sing resik luwih penting tinimbang tumindak sing rame.

Hati yang bersih lebih penting
daripada tindakan yang ramai.

 

Bab ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengajak bercermin. Kita tidak sedang
mencari siapa yang salah. Kita sedang mencari apa yang tersembunyi.
Karena taman jiwa yang ingin tumbuh subur harus berani mencabut gulma sampai ke
akarnya. Dan pencabutan itu tidak selalu nyaman. Kadang menyakitkan. Kadang membuat air
mata jatuh. Tetapi tanpa pencabutan, akar cahaya tidak akan tumbuh kuat.
Mari kita masuk perlahan. Dengan jujur. Dengan hati yang ingin bersih. Karena perjalanan
menuju jiwa yang kamilah bukan hanya tentang menambah amal, tetapi tentang memurnikan
niat.

 

6.1 Gulma Batin yang Merusak Taman Jiwa
Taman yang tampak hijau dari kejauhan belum tentu bersih dari gulma. Kadang bunganya
indah, daunnya rapi, tetapi di bawah tanah ada akar liar yang menyerap nutrisi dan melemahkan
pertumbuhan. Begitu pula jiwa, seseorang bisa terlihat saleh, rajin beribadah, aktif dalam
kebaikan. Namun jika riya, hasad, takabbur, dan ‘ujub dibiarkan tumbuh, semua kebaikan itu
perlahan kehilangan ruhnya.

Gulma batin tidak selalu berwujud dosa besar. Ia justru tumbuh dalam wilayah yang tampak
baik. Riya Amal yang Menginginkan Tepuk Tangan
Riya adalah melakukan kebaikan agar dilihat dan dipuji manusia. Secara sederhana, riya
berarti beramal bukan sepenuhnya karena Allah, tetapi karena ingin dihargai.
Ia bisa sangat halus. Seseorang tersenyum, tetapi berharap dinilai ramah. Seseorang
bersedekah, tetapi berharap disebut dermawan. Seseorang berdakwah, tetapi ingin dikenal
sebagai orang alim.

Allah Ta’ala berfirman:

 

ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ

 

“Orang-orang yang berbuat riya.” (QS. Al-Mā‘un: 6)

Rasulullah SAW menyebut riya sebagai syirik kecil. Mengapa kecil? Karena ia tidak selalu
disadari. Tetapi dampaknya besar. Ia merampas keikhlasan dan membuat amal bergeser arah.

 

Riya adalah bunga yang tampak indah, tetapi akarnya beracun.
Hasad Iri yang Membakar Kedamaian
Hasad adalah tidak rela melihat orang lain mendapat nikmat dan berharap nikmat itu hilang
darinya.

 

Ia tidak selalu tampak sebagai kebencian. Kadang hanya berupa rasa sempit di dada
ketika melihat orang lain berhasil.
Ada pertanyaan yang sering tidak terucap: “Mengapa dia?” “Mengapa bukan aku?” Allah
Ta’ala memperingatkan:

 

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

 

“Dan dari kejahatan orang yang dengki ketika ia dengki.” (QS. Al-Falaq: 5)

 

Hasad merusak pertama-tama bukan orang lain, tetapi diri sendiri. Ia menghapus rasa
syukur. Ia membuat nikmat terasa kurang. Ia menjadikan hati gelisah tanpa sebab. Hasad adalah
api yang membakar taman dari dalam.

 

Takabbur Dinding yang Menghalangi Cahaya
Takabbur adalah merasa diri lebih tinggi dari orang lain dan sulit menerima kebenaran,
terutama jika datang dari orang yang dianggap lebih rendah.

 

Rasulullah SAW bersabda: “Takabbur adalah menolak kebenaran dan meremehkan
manusia.” (HR. Muslim)
Takabbur bukan hanya soal gaya hidup. Ia bisa muncul dalam ilmu, dalam ibadah, bahkan
dalam kesederhanaan yang dibanggakan. Ia tampak ketika seseorang sulit berkata, “Aku salah.”

 

Ia terasa ketika nasihat membuat hati tersinggung. Ia muncul ketika diri merasa paling benar.
Takabbur adalah tembok tinggi yang membuat cahaya sulit masuk.
Ujub Kagum pada Diri Sendiri

 

Ujub adalah bangga berlebihan terhadap amal dan kelebihan diri sendiri. Jika takabbur
membandingkan diri dengan orang lain, ‘ujub berfokus pada diri sendiri. Ia berbisik pelan:
“Aku sudah banyak berbuat.” “Aku lebih rajin.” “Aku lebih suci.” Padahal semua kebaikan
adalah karunia Allah. Ujub membuat seseorang lupa bersyukur. Ia memindahkan pusat pujian
dari Allah kepada diri sendiri. Mengapa Gulma Ini Harus Dicabut? Karena ia merusak akar.

Allah Ta’ala berfirman:

 

إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

 

“Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘arā’: 89)

Yang akan menyelamatkan bukan banyaknya amal, tetapi kebersihan hati. Imam Al-Ghazali
menegaskan bahwa penyakit hati lebih berbahaya daripada penyakit tubuh. Penyakit tubuh
terasa sakit. Penyakit hati bisa terasa biasa saja, padahal ia sedang merusak.
Dalam kearifan Jawa dikenal ungkapan: “Alang-alang kudu dicabut nganti oyote.”
Gulma harus dicabut sampai akarnya. Jika tidak, ia akan tumbuh kembali, lebih kuat, lebih
tersembunyi.

Awal Pembersihan: Kejujuran

 

Bab ini bukan untuk membuat kita merasa hina. Ia untuk membuat kita berani jujur. Selama
seseorang masih mampu berkata: “Ya Allah, bersihkan niatku.” “Ya Allah, jauhkan aku dari iri.”
“Ya Allah, lembutkan hatiku.”

 

Maka taman itu masih hidup. Yang berbahaya bukan memiliki
gulma. Yang berbahaya adalah merasa tidak punya gulma. Dan dari kesadaran inilah pencabutan
dimulai.

error: Content is protected !!